Sinopsis I Can Speak, Sebuah Film Drama Komedi Bersejarah

I can speak ditayangkan dalam genre drama komedi, film ini dimainkan oleh aktris senior yaitu Na Moon Hee yang menjadi pemeran utama. Ia berperan sebagai Na Ok Bun seorang wanita tua yang hobi memberikan komplain pada kantor distrik akan perlakuan warga di lingkungannya.  

Ia bahkan sudah memberi atau mengajukan lebih dari 8.000 pengaduan ke kantor sipil, salah satu pengaduannya yaitu laporan tentang orang asing mencurigakan yang muncul dan pelanggaran garis pembatas papan reklame, karena banyaknya laporan yang diajukan, oleh karena itu ia dijuluki “nenek goblin”.

Baca juga:

Cinta, Persahabatan, dan Petualangan: 107 Rekomendasi Film Korea Terkini yang Menghibur!

Film i can speak dirilis pada tahun 2017 berdasarkan kisah nyata tentang “comfort women” atau biasa disebut dalam bahasa Jepang sebagai “jugun ianfu”, artinya adalah perempuan yang dipaksa menjadi budak seksual para tentara-tentara penjajahan Jepang di masa PD II (perang dunia dua). Film korea terbaik yang wajib ada di list kamu!

Diangkat dari kisah saksi salah satu korban perbudakkan seks pada zaman perang oleh militer Jepang. Ia bersaksi dalam “dengar pendapat dewan” untuk pengambilan sebuah keputusan pada resolusi dewan 121 yang diadakan oleh dewan perwakilan rakyat Amerika pada tahun 2007.

Sinopsis I Can Speak

Film Korea I Can Speak (2017), sinopsis I Can Speak
Sinopsis I Can Speak (2017)

Berawal dari pertemuan seorang pegawai negeri sipil yang ambisius bernama Park Min-jae (diperankan oleh Lee Je-hoon) dengan nenek Na Ok-bun. 

Pada suatu hari, Na Ok Bun ingin mulai belajar bahasa inggris karena ingin menemui adiknya yang tinggal di Amerika. Ia mencoba mengikuti beberapa kelas namun merasa tidak cocok. Sampai pada suatu hari Na Ok Bun melihat seseorang berbicara bahasa inggris dengan lancar, orang yang dimaksud adalah Park Min Jae, pada akhirnya ia meminta Min Jae untuk mengajarinya bahasa inggris namun ia menolak.

Pada zaman peperangan Na Ok Bun merupakan salah satu korban yang dijadikan budak seks tentara Jepang saat usianya baru 13 tahun. Tidak hanya Na Ok Bun, gadis seusianya juga mengalai hal yang sama pada masa itu.

Na Ok Bun memiliki keinginan untuk memberikan pernyataan di kongres Amerika untuk dapat mewakili perempuan lainnya yang menjadi korban seperti yang ia alami. Na Ok Bun hendak memberikan kesaksiannya, dengan tujuan pemerintah Jepang (yang menolak untuk meminta maaf) hendak meminta maaf secara formal kepada para wanita yang telah menjadi korban.

Baca juga:

Review Tae Guk Gi (2004), Kakak-Adik Dipaksa untuk Berperang