Home > InfoBola > 3 Alasan Masuk Akal Mengapa Ballon d’Or Harus Dihilangkan

3 Alasan Masuk Akal Mengapa Ballon d’Or Harus Dihilangkan

Ballon d’Or merupakan sebuah penghargan sepakbola tahunan yang diberikan kepada seorang pemain yang dinilai terbaik di tahun tersebut. Penentuan siapakah yang layak untuk meraih gelar Ballon d’Or pun ditentukan melalui voting yang dilakukan oleh para jurnalis olahraga ternama, serta para kapten Timnas di seluruh dunia.

Namun, penghargaan pemain terbaik dunia itu saat ini tengah didominasi oleh dua ‘alien’ saja yakni Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Selain itu, terdapat beberapa efek buruk, baik langsung maupun tidak, dari diselenggarakannya Ballon d’Or setiap tahunnya. Berikut ini adalah tiga alasan mengapa Ballon d’Or sebaiknya dihapuskan.

Terlalu ‘Mengagungkan’ Para Penyerang

Seperti yang kita ketahui, dalam kurun waktu 11 tahun terakhir para pemenang Ballon d’Or dikuasai oleh mereka, para pemain yang berposisi sebagai penyerang maupun gelandang serang. Pemain non-penyerang terakhir yang berhasil meraih gelar Ballon d’Or adalah Fabio Cannavaro di tahun 2006 saat dirinya masih bermain bersama Real Madrid.

Dari 61 Ballon d’Or yang telah dimenangkan, tiga di antaranya diraih oleh para pemain bertahan dengan satu diraih oleh seorang kiper. Padahal, dalam olahraga sepakbola terdapat banyak sekali komponen yang dapat memengaruhi hasil pertandingan.

Benar adanya bila seorang penyerang atau gelandang serang bertugas untuk menambah jumlah gol klubnya. Namun, tanpa adanya seorang gelandang, pemain bertahan, bahkan kiper sekalipun, banyaknya gol tak akan berarti.

‘Menghilangkan’ Kekuatan Tim Secara Penuh

Kita bisa ambil contoh di musim 2016/17 lalu. Saat itu, Real Madrid tampil superior dengan berhasil menjuarai La Liga Spanyol dan mempertahankan gelar juara Liga Champions. Namun setelahnya, sang peraih Ballon d’Or kembali jatuh kepada sang megabintang, Cristiano Ronaldo.

Padahal bila ditelaah dengan seksama, musim tersebut Real Madrid tidak akan bisa meraih gelar La Liga Spanyol dan Liga Champions bila tidak ada kontribusi nyata yang dilakukan oleh para pemain Madrid lainnya. Seperti tajamnya Sergio Ramos di kotak penalti lawan saat tendangan sudut, umpan-umpan akurat yang diberikan Kroos dan Modric, hingga tendangan jarak jauh andalan Casemiro.

Terpilihnya Ronaldo secara tak langsung membuat kualitas para pemain Madrid tampak tidak dianggap. Kembali dipertegas, sepakbola tidak hanya soal satu pemain saja. Tanpa adanya sebuah kerja sama tim di Real Madrid, Ronaldo hanyalah pesepakbola yang tampan dan rupawan saja.

Secara Tak Langsung, Jadi Contoh Buruk Pemain Muda

Dalam hal ini, kita dapat melihat kasus Neymar yang memutuskan hijrah ke Paris Saint-Germain dari Barcelona. Dalam sebuah kebesaran dan sejarah klub, Barcelona jauh lebih superior dan terkenal dibandingkan PSG. Lantas, apa yang membuat Neymar memutuskan hijrah ke PSG selain karena faktor uang?

Adalah terlepas dari baying-bayang sang megabintang La Blaugrana, Lionel Messi. Kehadiran Messi di Barcelona dianggap Neymar sebagai batu besar dirinya untuk menunjukkan eksistensi bahwa “saya loh megabintang-nya Timnas Brasil”.

Kepindahannya ke PSG tak lepas untuk dapat meraih gelar individu prestisius yang selama ini didominasi oleh dua orang saja, Messi dan Ronaldo, yakni Ballon d’Or.

Hal itu pun dapat menjadi contoh yang buruk untuk para pemain muda potensial lainnya. Alih-alih mengutamakan kerja sama tim guna meraih banyak gelar juara, mereka justru ingin tampil sebagai ‘pentolan’ di klub yang mereka bela. Itu dapat berdampak buruk dalam komunikasi antar tim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *